Adaptasi Teknologi Mengisi Formulir Online
Sepertinya memang tidak harus menyamaratakan kemampuan orang lain tentang teknologi. Aku memandang hal seperti mengisi sebuah formulir online seperti google form adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Sayangnya aku hanya melihat dari sudut pandangku.
![]() |
| Google formulir |
Sedangkan perjalanan beradaptasi dengan teknologi setiap orang berbeda-beda. Pun dengan beban kerja yang dialami juga tentu tidak sama. Bukan hanya karena itu hal mainstream, sehingga orang-orang bisa aku mintai tolong untuk melakukan tugas tersebut, meski umumnya sesuai dengan porsi mereka juga harus beradaptasi.
Contohnya mengisi formulir online untuk pekerjaan. Umumnya link dikirim via whatsApp, dibuka dari browser handphone lalu diisi sesuai nilai yang diminta. Kalaupun diminta untuk login, hanya perlu login menggunakan gmail dan formulir dapat diisi (misalnya formulir dari Google).
Memang aku sudah terbiasa untuk membuat formulir dengan Google formulir, mengulik fitur yang tersedia, sehingga saat sebagai end user (subjek yang mengisi formulir), aku sudah mengetahui apa yang harus dilakukan formulir meminta sesuai yang dibutuhkan. Jika saja error, sedikit sekali kemungkinannya. Dan jika error aku hanya perlu mengkonfirmasi ke pembuat formulir.
Ini baru Google formulir, sedangkan beberapa organisasi atau instansi sudah menggunakan jenis formulir diluar google yang kadang menyajikan fitur yang jarang digunakan oleh kebanyakan pembuat formulir online.
Aku mencoba Husnudzon kalau formulir dibuat agar memudahkan end user, tapi sebagai sesama end user, aku mungkin saja perlu juga untuk menuntun pelan-pelan dalam mengakses teknologi cara mengisi formulir online.
