Menjadi Baik

Berawal dari perbincangan dengan seorang keturunanTionghoa di Klenteng saat kegiatan komunitas.

Kegiatan diskusi lintas iman, mungkin bisa disebut sebagai seminar atau diskusi panel. Karena ada moderator dan narasumber serta peserta. Paling tidak kalian ada gambaran ya bentuk kegaiatannya, hehe.

Seorang bapak-bapak keturuan Tionghoa, separuh abad lebih usianya. Sebentar bertanya asalku dari mana hingga akhirnya bercerita banyak. Salah satunya adalah perlunya menjadi baik.

Katanya, mungkin aku sepantaran dengan anaknya. Memang ada hal yang berbeda dari bapak-bapak Tionghoa ini. Tentu saja karena kami beda agama, namun kami sesama manusia.

Satu hal yang mungkin tidak terfikirkan olehku adalah dia kalau dirumah membaca Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas. Paling tidak itu yang dikatakan dia. Lalu dia sendiri juga membacanya langsung saat dilokasi pertemuan lintas agama tersebut, menunjukkannya padaku.

Acara diskusi lintas agama ini mengundang narasumber berbeda. Maksudnya tidak dari agama yang sama. Dari agama Islam, Katolik dan Konghucu. Sedangkan lokasinya berada di halaman klenteng. Ini sebuah bentuk toleransi dalam keberagaman, kan!

Pak Hendro adalah nama dari orang yang ngobrol denganku. Dia dari marga Lim. Diantara banyak orang yang hadir di klenteng dalam acara diaolog serta menunggu waktu berbuka puasa, dia banyak bercerita padaku tentang hidup serta nasehat.

Memang setiap hari Jumat di bulan ramadan, klenteng tersebut mengadakan buka puasa bersama untuk umum. Sejak tahun 2004 sudah ada buka puasa bersama, kata salah satu pengurus klenteng saat aku dan penggerak komunitas lainnya hadir pada jumat sebelumnya. Jadi sudah 21 tahun pengurus menyelenggarakan buka bersama dengan masyarakat di klenteng tersebut.

Pak Hendro hari jumat lalu sepertinya tidak hadir, namun saat ada dialog lintas agama kemarin dia datang. Mungkin kebetulan (kebetulan menurutku maksudnya) karena aku mendapatkan beberapa nasehat yang bisa diambil makna positifnya. 

Dia pernah berkunjung ke makam para wali. Entah bagaimana caranya, tidak perlu dibayangkan, kita punya cara masing-masing (red). Karena dia lahir di Indonesia, mungkin saja salah satu caranya untuk mengenal Indonesia dengan cara tersebut. 

Hal lain yang dikatakannya adalah, bahwa 

"nggolek koyo kui nggak begitu penting, tapi perlu gawe naymbung urip" kurang lebihnya begitu. 

Artinya mencari kekayaan itu tidak terlalu penting, tapi perlu untuk menyambung hidup. Meskipun kalau untuk kalian dengan ilmu yang lebih tinggir, maknanya bisa berbeda ya. Karena ada sesuatu hal bahwa kaya memang penting untuk tujuan kebaikkan. Namun saat ini memang aku belum ada pada tahap tersebut.

Ada juga hidden story, yang mungkin familiar untuk pada cerita masyarakat namun diceritakan padaku. Tentang seorang pemimpin yang rela menanggung beban agar tidak terjadi perpecahan untuk masyarakatnya. Pemimpin yang dulu sekali, ada di Indonesia.

Seorang pemimpin yang bahkan tidak punya uang untuk membeli buah sehingga bertanya pada ajudannya apakah punya uang untuk membeli buah rambutan, karena dia ingin buah rambutan.

Hal-hal seperti itu tentu saja selalu membawa makna positif untuk berbuat baik. Dari cerita pemimpin tersebut saja bisa diambil makna, bahwa menjadi pemimpin itu berat, sehingga sebagai seorang pemimpin memang harus jadi pemimpin.

Selain pak Hendro, aku dulu juga pernah bertemu dengan ibu-ibu. Sepertinya usianya juga sudah lebih setengah abad yang aku temui di pantai Parang Tritis Yogyakarta. Dia bercerita padaku, salah satunya tentang menjadi imam yang baik dalam rumah tangga. Meskipun aku sendiri tidak minta untuk diberikan nasehat dan cerita.

Dia naik sepeda untuk sampai di pantai Parantritis, sehingga pada pagi hari sampai disana. Mungkin 2 atau 3 jam untuk sampai di pantai dari rumahnya. Aku lupa nama daerahnya.

Ibu-ibu ini puasa dauh, sudah 20 tahun katanya. Saat dipantai dia sendiri dan meminta tolong aku untuk mengambil foto dengan handphonenya. Anaknya kuliah ai al-Azhar kalau nggak salah. Lalu cerita-cerita termasuk nasehat untuk menjadi imam yang baik.

Aku merasa aku beruntung karena bertemu dengan orang-orang yang memberi nasehat baik kepadaku, hanya saja aku biasanya tidak mendokumentasikan hal-hal tersebut.

Semoga selalu ada nasehat-nasehat baik yang membuat kehidupan dan dunia ini menjadi lebih baik, baik pula antara aku dan kamu.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url