Membaca Peran dan Nasehat dari Teman


Aku mendengar banyak cerita dari beberapa temanku tentang pernikahan. Jujur saja ada yang membuatku percaya diri dan ada juga yang membuatku agak minder.

Seorang teman yang juga masih jomblo bercerita padaku bahwa selama apapun itu, kita akan nikah pada waktu yang tepat.

Wes to nikah-nikah

Katanya dalam logat bahasa jawa perbatasan jatim-jateng. Dia juga menceritakan tentang orang lain, temannya seingatku, yang sudah menikah dan saat ini hidup bahagia.

Meskipun awalnya juga tidak hidup berkecukupan seperti kebanyakan kami, rata-rata para lelaki yang hidup dari keluarga sederhana.

Ketakutanku (atau laki-laki lain, mungkin saja) tentang pernikahan adalah apakah mampu mencukupi. Yang paling utama adalah tentang materi.

Namun orang yang diceritakan temanku itu, awalnya juga sederhana, namun lama-lama juga kehidupannya tercukupi. Bisa menikah, ekonomi membaik, dan sekarang sudah punya anak.


Kehidupan sederhana yang diimpikan banyak laki-laki sederhana.

***

Ada seorang teman, yang mungkin saja kuanggap bodo amat dengan kehidupan ini. Mungkin saja temanku ini sangat paham bahwa Allah maha pengasih untuk setiap hambanya.

Aku sering ngopi bareng dengan dia. Dia juga punya warkop keliling, saat dia masih jomblo aku biasanya mampir disana dengan durasi waktu yang sangat lama. Ngobrol, seperti kebanyakan laki-laki lain.

Sekarang setelah menikah, ada hal yang berbeda. Dia menjadi kebanyakan orang lain yang aku kenal. Tanggung jawab sebagai laki-laki, bekerja dan mendapatkan penghasilan. Nafkah keluarga, itu yang aku baca dari perilakunya saat ini.

Meskipun punya privillege yang jarang dimiliki oleh kebanyakan para bujangan lainnya, dia tidak menggunakan hal itu secara berlebihan.

Maksudku, bisa saja dia meminta bantuan orang tuanya untuk mengelola lahan (dia punya banyak lahan setahuku) dan memanfaatkannya untuk berumah tangga.

Temanku justru memilih bekerja dan mencukupi keluarganya dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan orang tua atau mertuanya.

Dari sini aku tahu, ternyata laki-laki juga akan muncul rasa tanggung jawab ketika sudah menikah. Padahal saat belum menikah, rasanya dia adalah orang yang paling bodo amat menurutku.

***

Ada beberapa lagi mungkin yang juga berperan, yang aku anggap sebagai nasehat untuk aku tangkap. Tidak dengan ejekan, namun dengan beberapa cerita pribadi mereka.

Sebab rasanya cerita yang dibagikan padaku adalah pengalaman berdarah-darah mereka dalam berumah tangga.


Mereka juga bisa melaluinya, apalagi jika sudah mempunyai seorang anak, ada hal lain sepertinya yang membuat mereka lebih bahagia.

Seperti teman satu kantorku dulu. Sekarang dia sudah punya anak, berperan sebagai bapak yang lelah karena bekerja namun bahagia.

Seperti kebanyakan bapak-bapak lainnya atau paling dekat adalah bapakku sendiri.

Seorang yang sudah menikah akan bekerja, pekerjaan apa saja, tidak perlu gengsi asalkan dia mendapat penghasilan (nafkah). Apalagi, aku rasa banyak pekerjaan halal di bumi Tuhan ini Dan mereka (teman-temanku ini) mendapatkan pekerjaan itu.

***

Seperti laki-laki yang belum menikah lainnya, aku pernah dikenalkan dengan perempuan oleh beberapa temanku. Ada yang aku tolak, ada yang aku iyakan.

Bukan karena gengsi, hanya saja aku berupaya menjaga komitmen kepada yang lebih dulu. Orang lain biasa menyebutnya dengan setia, meskipun setiaku ini agak berbeda. Setia kepada perempuan yang statusnya entah akan memilihku atau tidak, dan ini beberapa tahun sejak aku kenal dia di instansi yang sama (beda kabupaten).

Aku percaya setiap orang layak dipilih oleh lawan jenis lain. Entah karena faktor kedekatan atau dari pertemanan. Namun setiap orang juga bisa memilih. Dan, yang menginginkanmu bisa juga memilih orang lain, mungkin karena budaya atau stigma di lingkup sosial mereka, mungkin saja. Atau karena kamu terlalu lamu untuk menjawab pertanyaan spesialnya, entahlah!

Namun aku percaya dan yakin, aku juga layak dipilih oleh orang lain, bukan karena standart tiktok... ehhh, maksudnya karena mereka punya pandangan yang berbeda untukku.

Seperti dia yang pernah dekat denganku, yang pernah curhat denganku, namun aku harus membatasi karena saat ini statusnya dia memang perlu kubatasi.

Karena saatnya mencurahkan banyak aspek kepada seorang yang akan aku sebut sebagai istri, orang-orang yang akan aku sebut sebagai keluarga dan nantinya adalah anak dan seterusnya.

Tapi setiap orang tentunya punya pandangan, kan untuk setiap mereka yang ingin dijadikan pasangan/pendamping hidup.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga ingin berbagi?


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url