Slow Living
Merasa cukup, namun tidak menolak untuk hal-hal baik dan yang lebih baik lainnya.
Tidak perlu terbawa suasana untuk harus memiliki hal-hal mewah yang dipunyai orang lain.
Tidak perlu juga untuk selalu ngotot dengan argumen embel-embel setia, bertahan menunggu jawaban dari perempuan yang aku harapkan. Alih-alih dia menerimaku, mungkin saja dia sekarang tidak memperdulikanku.
Aku ambil langkah untuk perempuan yang benar-benar menginginkanku. Semoga dia baik, keluarganya juga baik. Toh, kali ini orang lain yang menginginkan hidup bersamaku, aku hanya perlu belajar mencintainya, semoga lebih mudah.
Bisa jadi aku melihat terlalu jauh kehidupan orang lain untuk seorang yang aku suka, namun menegasi orang-orang yang ada disekelilingku.
Aku berusaha memantaskan dengan keras agar selaras dengannya. Tapi nampaknya itu kurang sesuai. Sepertinya aku hanya perlu terbuka untuk perempuan lain yang memang perduli denganku.
Tidak perlu terlalu idealis ekstrim, nampaknya hanya perlu santai dan biarkan saja mengalir.
Kehidupan ini juga anugerah. Bekerja juga anugerah aku rasa, karena dengan bekerja kita mendapat penghasilan, bisa membeli ini membeli itu. Juga beragam hal lain yang bersinggungan dengan kita.
Tidak perlu terlalu perduli dengan gelar strata yang aku genggam. Benar-benar rasanya harus membuang jauh-jauh gengsi dan rasa minder ini untuk bekerja dan mendapatkan penghasila, serta tidak perlu memikirkan perkataan orang lain tentangku.
Toh, hal lain yang berkaitan dengan teknologi, atau terkait dengan gelar akademik masih bisa aku lakukan secara silent, seperti menulis di blog ini.
Rasanya aku hanya perlu menjalaninya saja dan membuang jauh-jauh gengsi ini.